KARAWANG, HUKUMTIRANI.COM – Ketua DPC Pemuda Tani Kabupaten Karawang, Dr (C) H. Emed Tarmedi, A.Md.Kep., S.KM., MH.Kes., menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, S.E., yang mengusulkan kepada pemerintah pusat agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga menjangkau kelompok 3B yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Menurut Emed Tarmedi, usulan tersebut merupakan langkah yang sangat strategis karena sejalan dengan paradigma pembangunan kesehatan modern yang lebih menekankan aspek pencegahan (preventif) dibandingkan pengobatan (kuratif). Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak program yang berfokus pada pencegahan masalah kesehatan sejak dini agar beban penyakit dan pembiayaan kesehatan dapat ditekan secara berkelanjutan, Senin (8/6/2026).
“Selama ini sistem kesehatan kita masih cenderung berorientasi pada pengobatan atau kuratif. Ketika masyarakat sudah sakit, negara hadir memberikan pelayanan kesehatan dan pembiayaan pengobatan. Tentu itu penting, tetapi akan jauh lebih baik apabila negara juga memperkuat kebijakan preventif agar masyarakat tidak jatuh sakit sejak awal. Program MBG merupakan salah satu bentuk investasi preventif yang sangat penting,” ujar Emed.
Ia menjelaskan bahwa negara-negara maju telah lama menggeser kebijakan kesehatannya dari pendekatan kuratif menuju pendekatan promotif dan preventif. Fokusnya bukan hanya mengobati penyakit, tetapi membangun masyarakat yang sehat melalui pemenuhan gizi, edukasi kesehatan, sanitasi, serta intervensi sejak masa kehamilan hingga usia anak.
Menurutnya, usulan agar MBG menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan langkah yang tepat karena kelompok tersebut berada pada fase paling menentukan dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia.
“Masa kehamilan sampai usia dua tahun merupakan periode emas atau golden period yang menentukan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak di masa depan. Jika kebutuhan gizi pada fase tersebut terpenuhi dengan baik, maka risiko stunting, gizi buruk, maupun berbagai gangguan tumbuh kembang dapat ditekan secara signifikan,” katanya.
Sebagai akademisi kesehatan, Emed menilai bahwa Program MBG memiliki kontribusi besar dalam mendukung percepatan penurunan stunting yang saat ini masih menjadi agenda prioritas nasional. Menurutnya, stunting tidak cukup hanya ditangani melalui layanan kesehatan, tetapi memerlukan intervensi lintas sektor yang salah satunya berupa pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi secara berkelanjutan.
Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Karawang yang secara aktif memperjuangkan agar kelompok 3B masuk dalam sasaran Program MBG. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan komitmen daerah dalam membangun generasi yang sehat sejak dalam kandungan.
“Jika intervensi dilakukan sejak ibu hamil, dilanjutkan pada masa menyusui, kemudian saat anak memasuki usia balita, maka manfaatnya akan sangat besar. Ini bukan sekadar program makan gratis, tetapi investasi negara untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan,” jelasnya.
Lebih jauh, Emed menegaskan bahwa manfaat Program MBG tidak hanya dirasakan sektor kesehatan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap sektor pertanian dan perekonomian daerah. Menurutnya, kebutuhan bahan baku pangan untuk mendukung operasional ratusan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan menciptakan permintaan yang besar dan berkelanjutan terhadap hasil produksi petani, peternak, nelayan, koperasi, dan pelaku UMKM.
Ia menjelaskan bahwa setiap dapur MBG membutuhkan pasokan beras, sayuran, buah-buahan, telur, ikan, daging ayam, susu, dan berbagai komoditas pangan lainnya setiap hari. Kondisi tersebut menciptakan pasar yang pasti bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.
“Program MBG memiliki efek berganda atau multiplier effect yang luar biasa. Di satu sisi meningkatkan status gizi masyarakat, di sisi lain memberikan kepastian pasar bagi petani. Ketika hasil pertanian terserap secara berkelanjutan, maka kesejahteraan petani juga akan meningkat,” ungkapnya.
Sebagai Ketua DPC Pemuda Tani Karawang, Emed juga melihat Program MBG sebagai momentum penting dalam mendorong regenerasi petani. Selama ini, salah satu tantangan terbesar sektor pertanian adalah minimnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian karena dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi.
Namun dengan hadirnya Program MBG yang membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan, sektor pertanian mulai dipandang sebagai peluang usaha yang memiliki prospek jangka panjang.
“Saya melihat banyak anak muda mulai melirik kembali sektor pertanian karena adanya kepastian pasar yang dibangun melalui Program MBG. Ini menjadi momentum kebangkitan petani muda Indonesia. Ketika hasil panen memiliki pasar yang jelas, maka anak muda tidak lagi ragu untuk terjun ke sektor pertanian,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan Program MBG harus dibarengi dengan pelibatan aktif kelompok tani, gabungan kelompok tani, koperasi, BUMDes, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM pangan sebagai bagian dari rantai pasok program.
Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan bergizi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa, memperkuat ketahanan pangan nasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Menurut Emed, apabila kebutuhan kekurangan 174 SPPG di Kabupaten Karawang dapat terpenuhi sebagaimana yang diusulkan pemerintah daerah, maka peluang ekonomi yang tercipta akan sangat besar. Selain membuka lapangan kerja baru, kebutuhan bahan baku pangan yang tinggi akan memberikan dampak positif terhadap sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha mikro lokal.
“Karawang memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan nasional. Program MBG harus menjadi peluang untuk memperkuat petani lokal sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Karena itu kami mendukung penuh usulan Bupati Karawang agar program ini diperluas hingga menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” tegasnya.
DPC Pemuda Tani Karawang menyampaikan usulan tersebut sebagai bagian dari strategi nasional percepatan penurunan stunting dan pembangunan sumber daya manusia unggul. Dengan pendekatan preventif yang kuat serta dukungan terhadap sektor pertanian, Program Makan Bergizi Gratis diyakini mampu menjadi salah satu program transformasional yang memberikan manfaat jangka panjang bagi bangsa Indonesia.
(Redaksi)

