Mon - Sat 8.00 - 17.00

MULASARA Satukan Seni, Sejarah dan Generasi Muda, Abizar Machmud Hadir di Puri Agung Pemecutan

DENPASAR — Ketua Asosiasi Kreator Konten Jawa Barat, Abizar Machmud, menghadiri pameran seni bertajuk “MULASARA” yang digelar oleh gerakan kemBALIkeSENI di Puri Agung Pemecutan, Bali. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara kreator konten digital dengan penggiat seni dan budaya.

Undangan tersebut digagas langsung oleh Victoria Titisari Kosasieputri, Founder kemBALIkeSENI sekaligus Puteri Indonesia Lingkungan 2026 yang akan mewakili Indonesia pada ajang Miss International 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan nilai budaya melalui pendekatan kreatif kepada masyarakat luas, Jumat (18/9/2026).

Secara etimologi, MULASARA berasal dari kata mula yang berarti asal dan sāra yang bermakna inti atau esensi. Filosofi tersebut menjadi landasan pameran untuk mengajak masyarakat memahami kembali asal-usul, identitas, serta esensi diri melalui karya seni kontemporer.

MULASARA tidak sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga menawarkan sudut pandang mengenai pentingnya menjaga akar budaya di tengah pesatnya modernisasi. Seni kontemporer digunakan sebagai medium untuk melihat kembali tradisi dengan perspektif baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pameran yang berlangsung di Puri Agung Pemecutan tersebut juga menjadi bagian dari momentum memperingati 120 tahun Puputan Badung. Pemilihan kawasan puri sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali ruang bersejarah sebagai tempat bertemunya seni, budaya, sejarah, kreativitas, dan masyarakat.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas entitas antara kemBALIkeSENI, KULTARA, RupaBali, dan Puri Agung Pemecutan. Kolaborasi tersebut mempertemukan berbagai generasi dan perspektif untuk membangun dialog mengenai keberlanjutan tradisi di tengah perubahan sosial dan budaya.

KULTARA dalam kegiatan tersebut turut diwakili oleh Ariz Maulanasyah. Kehadiran berbagai komunitas dan pelaku kreatif menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kerja bersama dengan melibatkan berbagai sektor dan generasi.

Abizar Machmud menilai kreator konten memiliki ruang strategis dalam memperluas jangkauan pesan kebudayaan. Perkembangan media digital memungkinkan cerita mengenai seni, tradisi, sejarah, dan nilai-nilai lokal disampaikan kepada audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda.

Menurut Abizar, kolaborasi antara kreator digital dan penggiat budaya perlu terus diperkuat agar kebudayaan tidak hanya hadir dalam ruang-ruang konvensional. Narasi budaya dapat dikemas secara kreatif melalui konten digital tanpa menghilangkan substansi serta nilai yang terkandung di dalamnya.

“Budaya harus terus hidup dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. Kreator konten memiliki peran untuk membantu membawa cerita dan nilai kebudayaan ke ruang digital agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” ujar Abizar.

Ia juga melihat MULASARA sebagai contoh bagaimana seni dapat menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Dengan pendekatan kontemporer, akar budaya dapat dikaji dan diperkenalkan kembali dengan cara yang lebih dekat dengan karakter generasi saat ini.

Sementara itu, kegiatan MULASARA menjadi bagian dari misi kebudayaan yang dibawa Victoria Titisari Kosasieputri melalui program Beauties for SDGs. Inisiatif tersebut hadir menjelang keberangkatannya mewakili Indonesia pada Miss International 2026, dengan membawa pesan mengenai pentingnya perhatian terhadap lingkungan, budaya, dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui MULASARA, penyelenggara berharap seni dan budaya dapat menjadi ruang pertemuan lintas generasi sekaligus mendorong masyarakat untuk mengenali kembali akar identitasnya. Kolaborasi antara seniman, komunitas, kreator konten, dan institusi budaya diharapkan dapat membuat nilai-nilai tradisi tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah perubahan zaman.

(Emed Tarmedi)

Bagikan Artikel
- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya